Wetu Telu
Wetu Telu

Wetu Telu

Wetu Telu (bahasa Indonesia: Waktu Tiga) adalah praktik unik sebagian masyarakat suku Sasak yang mendiami pulau Lombok dalam menjalankan agama Islam yang hanya menjalankan tiga rukun Islam, yaitu membaca dua kalimah syahadat, salat dan puasa.[1] Ketiga rukun Islam tersebut, cukup dijalankan oleh kyai selaku pemimpin agama yang menghubungkan mereka dengan Allah.[1] Mereka juga berkepercayaan tentang adanya roh suci para nenek moyang dan kekuatan gaib pada benda-benda.[1] Disinyalir bahwa praktik unik ini terjadi karena para penyebar Islam pada masa lampau yang berusaha mengenalkan Islam ke masyarakat Sasak secara bertahap.[2] Di pulau Lombok terdapat dua varian Islam yang dipisahkan secara diametral, yakni antara Islam Wetu Telu dan Islam Waktu Lima.[2] Islam Wetu Telu dapat dikategorikan sebagai agama tradisional, sementara Islam Waktu Lima dikategorikan agama samawi.[2] Identifikasi Wetu Telu yang lebih mendekati agama tradisional ini dan Waktu Lima yang lebih mendekati agama samawi bukanlah merupakan pemisahan total.[2] Ada muatan-muatan nilai yang dipunyai Waktu Lima yang juga dianut kalangan Wetu Telu.[3] Penggunaan do‘a-do‘a berbahasa Arab yang diambil dari al-Qur‘an, para kyai yang menjalankan peran sebagai imam, dan masjid merupakan bagian penting keprcayaan Wetu Telu yang diambil dari Islam secara umum.[3]