Perang Saudara Islam II
Perang Saudara Islam II

Perang Saudara Islam II

Perang Saudara Islam II (atau disebut juga Fitnah Kedua)[lower-alpha 1] adalah sebuah periode kekacauan politik dan militer yang melanda umat Islam pada masa-masa awal kekhalifahan Umayyah. Perpecahan ini terjadi setelah meninggalnya khalifah pertama Umayyah, yaitu Muawiyah pada 680 dan belangsung selama sekitar dua belas tahun. Dalam perang ini, Dinasti Umayyah berhasil mengalahkan dua kelompok penentangnya: pendukung keluarga Ali yang awalnya dipimpin Husain bin Ali dan dilanjutkan Sulaiman bin Surad serta Mukhtar ats-Tsaqafi di Irak, maupun kekhalifahan tandingan yang didirikan Abdullah bin az-Zubair di Mekkah.Perang ini berakar dari Perang Saudara Islam I (Fitnah Pertama). Setelah terbunuhnya khalifah ketiga Utsman bin Affan, umat Islam mengalami perang saudara untuk memperebutkan kepemimpinan, yang utamanya melibatkan Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sofyan. Setelah pembunuhan Ali pada 661 dan mundurnya penerusnya Hasan bin Ali pada tahun yang sama, Muawiyah menjadi penguasa tunggal umat Islam. Sebelum Muawiyah meninggal, ia menunjuk putranya Yazid sebagai pewaris takhta. Tindakan ini banyak ditentang karena penunjukan penerus melalui garis keturunan belum pernah dilakukan dalam sejarah Islam. Hal ini memicu ketegangan sepeninggal Muawiyah dan setelah berpindahnya tampuk kekhalifahan ke tangan Yazid. Husain bin Ali diajak oleh pendukung keluarganya di Kufah untuk melengserkan Dinasti Umayyah, tetapi ia terbunuh dalam perjalanan ke Kufah dalam Pertempuran Karbala pada Oktober 680. Abdullah bin az-Zubair melancarkan perlawanan terhadap Yazid yang berpusat di Mekkah dan meluas hingga Madinah serta seluruh Hijaz berada di bawah pengaruhnya. Yazid mengirim pasukannya untuk menyerang Madinah dan Mekkah, tetapi ia meninggal pada November 683. Sepeninggal Yazid, seluruh kekhalifahan (kecuali Syam) melepaskan diri dari kekuasaan Umayyah dan hampir seluruhnya tunduk kepada Ibnu az-Zubair. Di Irak, muncul pemberontakan pendukung keturunan Ali. Menyesali kematian Husain, 4.000 warga Kufah yang dipimpin Sulaiman bin Surad berniat melawan Bani Umayyah hingga mati. Mereka terbunuh dalam Pertempuran Ain al-Wardah pada Januari 685. Mukhtar ats-Tsaqafi mengambil alih Kufah pada Oktober dan pasukannya mengalahkan pasukan Umayyah dalam Pertempuran Khazir pada Agustus 686. Mukhtar sendiri lalu menghadapi pendukung Ibnu az-Zubair dalam serangkaian pertempuran, dan terbunuh di Kufah pada April 687. Kekalahan Mukhtar menyisakan kubu Umayyah dan kubu Ibnu az-Zubair dalam perang ini. Selanjutnya, Abdul Malik bin Marwan menyusun kembali kekuatan Umayyah dan berhasil mengalahkan tentara Ibnu az-Zubair di Irak (Pertempuran Maskin) dan Hijaz (Pengepungan Mekkah) pada tahun 692.Setelah peperangan ini, Abdul Malik melakukan perubahan struktur pemerintahan kekhalifahan Umayyah dengan meningkatkan kekuasaan pusat khalifah, serta mereformasi angkatan tentara dan birokrasi. Perkembangan yang terjadi selama perang saudara ini memperkuat perpecahan sektarian dan menyebabkan pengembangan doktrin-doktrin dalam agama Islam yang kelak menjadi bagian dari kelompok Sunni dan Syiah. Hingga saat ini Peristiwa Karbala yang terjadi dalam perang ini diperingati umat Muslim Syiah pada Hari Asyura.

Perang Saudara Islam II

Hasil Kemenangan dinasti Umayyah
Lokasi Semenanjung Arab, Syam, Irak
Tanggal 680–692
TanggalLokasiHasil
Tanggal680–692
LokasiSemenanjung Arab, Syam, Irak
HasilKemenangan dinasti Umayyah