Sejarah Juventus_F.C.

Artikel utama: Sejarah Juventus F.C.

Awal mula

Foto bersejarah, Juventus FC pada tahun 1898.Juventus FC pada tahun 1903.

Juventus didirikan pada akhir tahun 1897 dengan nama Sport Club Juventus oleh siswa-siswa dari sekolah Massimo D'Azeglio Lyceum, yang berlokasi di daerah Liceo D’Azeglio, Turin.[38] Awalnya, klub ini dibentuk sebagai wadah bagi anak-anak muda yang saling berteman, yang ingin menghabiskan waktu dengan jalan-jalan bersama, bersenang-senang, serta melakukan berbagai hal positif. Dua di antaranya adalah kakak beradik Eugenio dan Enrico Canfari.[38] Anak-anak muda tersebut rata-rata berusia 15 tahun, dengan anak tertua berumur 17 tahun dan beberapa yang lain berumur di bawah 15 tahun.

Saat itu, hal yang paling sulit bagi para pemuda tersebut adalah bagaimana caranya menemukan markas baru. Salah satu pendiri Juventus, Enrico Canfari dan teman-temannya akhirnya menemukan sebuah tempat yang merupakan bangunan dengan halaman yang dikelilingi tembok, mempunyai empat ruangan, sebuah kanopi, loteng, dan keran air minum. Selanjutnya, mereka pun mengadakan pertemuan untuk menentukan nama klub, yang akhirnya berlanjut dengan perdebatan sengit di antara mereka. Satu kubu cenderung tidak menyukai penggunaan nama latin, sedangkan kubu yang lain justru menyukai nama-nama klasik, dan sisanya merupakan kubu netral. Kemudian, ada tiga nama yang diputuskan untuk dipilih, yaitu "Societa Via Port", "Societa sportive Massimo D’Azeglio", dan "Sport Club Juventus". Nama terakhir akhirnya dipilih tanpa banyak keberatan, dan resmi menjadi nama klub mereka. Namun, dua tahun kemudian, mereka berganti nama menjadi Football Club Juventus.[3]

Klub tersebut lantas bergabung dengan Kejuaraan Sepak Bola Italia pada tahun 1900. Pada tahun 1904, seorang pebisnis yang bernama Ajmone-Marsan mengambil alih aspek keuangan Juventus, dan membuat mereka bisa berpindah tempat latihan dari Piazza d’Armi ke Velodrome Umberto I yang kondisinya lebih layak. Di periode tersebut, mereka menggunakan kostum pink-hitam. Juventus berhasil menjuarai kompetisi liga untuk pertama kalinya pada tahun 1905. Saat itu, mereka telah menggunakan kostum hitam-putih, terinspirasi dari klub asal Inggris Notts County.[39]

Pada tahun 1906, ada beberapa staf Juventus yang ingin memindahkan Juventus dari kota Turin.[3] Presiden Alfred Dick merasa tidak senang dengan kondisi tersebut, dan memutuskan untuk hengkang bersama beberapa pemain bintang dan membentuk klub baru yang bernama Torino. Perseteruan antara Juventus dan Torino terus berlanjut hingga saat ini, dan pertandingan antara keduanya dikenal dengan nama Derby della Mole.[40] Di periode tersebut, Juventus berjuang untuk kembali membangun tim setelah perpecahan, dan berusaha tetap bertahan di tengah kekacauan Perang Dunia I.[39]

Dominasi liga

Omar Sivori, John Charles, dan Giampiero Boniperti di era 1950-an.

Pemilik FIAT, Edoardo Agnelli, mengambil alih kendali atas tim Juventus pada tahun 1923, dan langsung membangun stadion baru.[3] Hal ini pun membantu Juventus untuk meraih scudetto (gelar juara liga) yang kedua pada musim 1925–26, setelah mengalahkan Alba Roma dengan skor agregat 12-1 (Antonio Vojak mencetak gol-gol penting di musim tersebut). Pada era 1930-an, Juventus telah berhasil menjadi kekuatan utama di sepak bola Italia dengan menjadi klub profesional pertama di negara tersebut dan klub dengan basis penggemar pertama yang tersebar di berbagai kota. Hal ini mendukung mereka untuk mendapatkan gelar juara liga selama lima kali berturut-turut sejak tahun 1930 hingga 1935 (empat gelar pertama diraih di bawah asuhan pelatih Carlo Carcano).[39] Selain itu, Juventus pun berkontribusi dalam skuat tim nasional Italia yang dilatih oleh Vittorio Pozzo, yang berhasil menjadi juara dunia pada tahun 1934.[41] Beberapa pemain bintang Juventus yang turut membela Italia saat itu antara lain Raimundo Orsi, Luigi Bertolini, Giovanni Ferrari dan Luis Monti.

Juventus kemudian memindahkan kandang mereka ke Stadio Comunale, tetapi gagal merajai sepak bola Italia pada akhir 1930-an dan awal 1940-an. Mereka bahkan harus mengakui keunggulan tim sekota, Torino. Secercah harapan muncul saat mereka berhasil menjuarai Piala Italia untuk pertama kalinya pada musim 1937-38 dengan mengalahkan Torino. Mereka sempat mengakhiri musim 1940-41 di posisi ke-6, namun berhasil meraih Piala Italia kedua di musim berikutnya. Pada periode ini, Italia tengah mengikuti Perang Dunia II, sehingga menghambat jalannya liga. Pada tahun 1944, Juventus mengikuti sebuah turnamen lokal yang akhirnya urung diselesaikan. Pada tanggal 14 Oktober, liga kembali bergulir dengan pertandingan derby antara Juventus dan Torino. Juventus berhasil mengalahkan rival sekotanya dengan skor 2-1, tetap Torino yang saat itu dikenal sebagai “Grande Torino” berhasil mengakhiri musim sebagai juara.

Setelah Perang Dunia II, para tanggal 22 Juli 1945, Gianni Agnelli terpilih sebagai presiden kehormatan klub. Selama masa kepemimpinannya, Agnelli mendatangkan beberapa pemain baru seperti Giampiero Boniperti, Muccinelli, dan pemain asal Denmark John Hansen. Mereka berhasil menjuarai liga di musim 1949–50 dan 1951–52. Gelar di tahun 1952 mereka raih lewat kepemimpinan pelatih asal Inggris, Jesse Carver.

Pada tanggal 18 September 1954, Gianni Agnelli meninggalkan Juventus. Di tahun tersebut, Juventus hanya berhasil mengakhiri musim di posisi ke-7. Pada musim berikutnya, barisan pemain muda di bawah kepemimpinan pelatih Puppo berusaha untuk bangkit. Semangat mereka pun bertambah setelah masuknya Umberto Agnelli sebagai komisioner klub.

Pada musim 1957–58, Juventus merekrut dua penyerang baru, yaitu John Charles yang berasal dari Wales, dan Omar Sivori yang berasal dari Argentina. Mereka pun berhasil kembali menjadi juara, dan berhak mengenakan tanda bintang kehormatan karena telah menjuarai 10 gelar juara liga. Mereka pun menjadi klub Italia pertama yang mendapat penghargaan tersebut. Di musim tersebut, Sívori menjadi pemain pertama Juventus yang berhasil mendapatkan gelar Pemain Terbaik Eropa. Pada musim berikutnya, mereka mengalahkan Fiorentina di final Coppa Italia, dan untuk pertama kalinya berhasil mendapatkan gelar ganda (Serie A dan Coppa Italia). Boniperti memutuskan untuk pensiun pada tahun 1961, dengan status sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa bagi Juventus dengan 182 gol di semua kompetisi. Rekor tersebut bertahan selama 45 tahun.[42]

Pada era 1960-an, Juventus hanya berhasil satu kali menjuarai liga, yaitu pada musim 1966–67. Namun, pada awal tahun 1970-an, Juventus kembali memperkuat posisi mereka di sepak bola Italia di bawah asuhan mantan pemain mereka Čestmír Vycpálek. Pada musim 1971-72, Juventus berhasil mencapai final Fairs Cup (cikal bakal Piala UEFA), namun harus kalah dari Leeds United. Di liga, posisi mereka sempat terancam karena cedera yang dialami pemain andalan mereka Roberto Bettega. Untungnya, mereka tetap bisa bermain konsisten dan meraih gelar scudetto ke-14.

Pada musim 1972-73, mereka kedatangan beberapa pemain baru, seperti Dino Zoff dan Jose Altafini dari Napoli. Saat itu, mereka dihadapkan pada jadwal yang padat di Serie A dan kompetisi Eropa. Juventus berhasil merebut gelar scudetto ke-15 setelah menyalip AC Milan di detik-detik terakhir, setelah tim asal kota Milan tersebut secara mengejutkan kalah di pertandingan terakhir mereka. Juventus pun berhasil masuk final Liga Champions, namun harus kalah dari Ajax Amsterdam yang diperkuat oleh Johan Crujff.

Di musim-musim berikutnya, mereka berhasil menambah tiga gelar juara liga pada musim 1974-75, 1976–77, dan 1977–78. Prestasi ini mereka raih berkat penampilan gemilang bek Gaetano Scirea dan kepemimpinan pelatih Giovanni Trapattoni, yang membawa Juventus meraih gelar pertama di kancah Eropa, tepatnya gelar Piala UEFA tahun 1977. Selama era Trapattoni, banyak pemain Juventus yang kemudian menjadi tulang punggung tim nasional Italia yang sukses di bawah arahan pelatih Enzo Bearzot, yang berhasil tampil baik di Piala Dunia 1978, Euro 1980, dan menjuarai Piala Dunia 1982.[43][44]

Pentas Eropa

Di masa kepelatihan Trapattoni pada tahun 1980-an,[39] Juventus meraih kesuksesan besar dengan menenangkan gelar Serie A sebanyak empat kali. Pada tahun 1984, mereka meraih gelar juara liga ke-20, sehingga berhak mengenakan bintang tambahan di seragam mereka, menjadi satu-satunya klub Italia yang berhasil meraih prestasi tersebut. Enam pemain Juventus turut bergabung dengan tim nasional Italia yang menjadi juara Piala Dunia 1982. Paolo Rossi merupakan pemain Juventus yang paling mencuri perhatian, hingga ia berhasil meraih penghargaan sebagai Player of the Tournament dan menjadi Pemain Terbaik Eropa pada tahun 1982.[45]

Juventus kembali menjadi favorit di Serie A musim 1982-83 setelah kedatangan bintang Perancis, Michel Platini. Sayangnya, jadwal mereka yang padat dengan kompetisi Eropa membuat mereka tidak konsisten di liga domestik. Sempat hanya berselisih 3 poin dengan Roma yang menempati posisi puncak, Juventus gagal mengejar dan harus merelakan klub asal ibukota tersebut menjadi juara. Di Eropa, Juventus berhasil lolos ke babak final Liga Champions, namun harus kalah dari Hamburg. Di musim tersebut, mereka hanya berhasil meraih gelar Piala Italia dan Piala Interkontinental.

Pada musim panas 1983, Juventus harus kehilangan dua pilar inti mereka. Dino Zoff gantung sepatu di usia 41 tahun, sedangkan Bettega hijrah ke Kanada untuk mengakhiri karier di sana. Mereka lantas merekrut kiper baru dari Avellino, yaitu Stefano Tacconi dan Beniamino Vinola. Sedangkan Nico Penzo menjadi pendampong Rossi di lini depan. Pada saat itu, mereka harus berkonsentrasi penuh di dua kompetisi, yaitu liga domestik dan Piala Winner. Hasilnya, melalui penampilan yang konsisten sepanjang musim, Juventus berhasil memastikan gelar juara liga satu pekan sebelum kompetisi usai. Prestasi ini pun ditambah keberhasilan mereka menjuarai Piala Winner dengan mengalahkan Porto 2-1 di Basel pada tanggal 16 Mei 1984.

Pada musim berikutnya, Juventus gagal meraih gelar juara Serie A yang jatuh ke tangan Hellas Verona. Namun mereka berhasil menjuarai Liga Champions pada tahun 1985 lewat gol semata wayang Platini di partai final. Sayangnya, pertandingan penutup melawan Liverpool FC yang berlangsung di Stadion Heysel Belgia harus diwarnai dengan kematian 39 suporter Juventus akibat bentrokan dengan para hooligans pendukung Liverpool. Sebagai hukuman dari tragedi tersebut, semua tim asal Inggris dilarang untuk mengikuti kejuaraan Eropa selama lima tahun.[46]

Keberhasilan menjuarai Liga Champions tersebut membuat Juventus menjadi satu-satunya tim yang berhasil menjuarai tiga kompetisi utama UEFA. Ditambah keberhasilan mereka menjuarai Intercontinental Cup, Juventus pun menjadi satu-satunya klub hingga saat ini yang berhasil memenangkan seluruh gelar juara kompetisi resmi UEFA dan gelar juara dunia. Prestasi tersebut semakin diperkuat dengan kesuksesan menjuarai Piala Intertoto pada tahun 1999.

Michel Platini, bintang Juventus pada saat itu, juga berhasil menjadi pemain terbaik Eropa untuk yang ketiga kalinya secara berturut-turut, sebuah rekor yang belum bisa dipecahkan oleh pemain lain hingga saat ini..[47] Bila ditambah gelar serupa yang diraih Paolo Rossi pada tahun 1982, maka Juventus telah meraih gelar tersebut selama empat kali berturut-turut, dan menjadi satu-satunya klub yang bisa meraih prestasi tersebut hingga saat ini.

Juventus sempat meraih gelar scudetto pada musim 1985-86, yang juga merupakan tahun terakhir Trapattoni di Juventus. Setelah itu, Juventus terus gagal menunjukkan performa terbaik, dan harus mengakui keunggulan Napoli yang diperkuat Diego Maradona, dan kebangkitan dua tim asal kota Milan, yaitu AC Milan dan Inter Milan.

Pada tahun 1990, Juventus pindah ke kandang baru mereka, yaitu Stadio Delle Alpi, yang dibangun menjelang Piala Dunia 1990.[48]

Kesuksesan era Lippi

Marcello Lippi, salah satu pelatih sukses Juventus.

Marcello Lippi mengambil alih posisi pelatih Juventus pada awal musim 1994-95.[3] Ia langsung mengantarkan Juventus menjuarai Serie A untuk pertama kalinya sejak pertengahan tahun 1980-an di musim tersebut, lengkap dengan gelar juara Coppa Italia. Pemain bintang mereka saat itu adalah Ciro Ferrara, Roberto Baggio, Gianluca Vialli dan pemain muda berbakat bernama Alessandro Del Piero. Lippi kemudian memimpin Juventus untuk menjuarai Liga Champions Eropa pada musim berikutnya, dengan mengalahkan Ajax Amsterdam melalui drama adu penalti, setelah skor imbang 1-1 pada babak normal. Fabrizio Ravanelli menyumbangkan satu gol untuk Juve di pertandingan tersebut.[49]

Setelah berhasil bangkit dan menjuarai Liga Champions, Juventus tidak lantas tinggal diam. Mereka kembali merekrut pemain-pemain bintang, seperti Zinedine Zidane, Filippo Inzaghi dan Edgar Davids. Mereka pun berhasil menjuarai Serie A di musim 1996–97 dan 1997–98, Piala Super UEFA 1996,[50] dan Piala Interkontinental 1996.[51] Juventus juga berhasil mencapai final Liga Champions pada tahun 1997 dan 1998, tetapi harus takluk oleh Borussia Dortmund (Jerman) dan Real Madrid (Spanyol).[52][53]

Lippi sempat digantikan oleh Carlo Ancelotti selama dua setengah musim. Ia kembali pada tahun 2001, menyusul pemecatan terhadap Ancelotti, dan langsung merekrut nama-nama besar, seperti Gianluigi Buffon, David Trezeguet, Pavel Nedvěd, dan Lilian Thuram. Mereka sukses menjuarai Serie A pada musim 2001–02 dan 2002-03.[39] Pada tahun 2003, terjadi All Italian Final di Liga Champions, namun Juventus harus kalah dari Milan lewat adu penalti setelah pertandingan di waktu normal berakhir tanpa gol. Di akhir musim berikutnya, Lippi ditunjuk untuk menjadi pelatih tim nasional Italia, membuat ia harus mengakhiri salah satu periode kepelatihan paling sukses sepanjang sejarah Juventus.

Skandal "Calciopoli"

Alessandro Del Piero, Pencetak gol terbanyak sepanjang masa Juventus.

Fabio Capello menjadi pelatih Juventus pada tahun 2004, dan membawa klub tersebut meraih dua gelar Serie A secara berturut-turut. Namun, pada bulan Mei 2006, Juventus merupakan salah satu dari lima klub Serie A yang dihubungkan dengan skandal pengaturan skor. Karena kasus tersebut, mereka pun ditempatkan di posisi terbawah untuk musim tersebut, dan harus terdegradasi ke Serie B untuk pertama kalinya sepanjang sejarah. Gelar juara yang mereka raih pada musim 2004–05 dicopot, dan posisi teratas untuk musim 2005–06 diserahkan kepada Inter Milan[54]

Setelah kasus tersebut, banyak pemain kunci mereka yang meninggalkan klub karena tidak mau bermain di Serie B, seperti Lilian Thuram, striker Zlatan Ibrahimović, dan bek tengah Fabio Cannavaro. Namun, nama-nama besar seperti Gianluigi Buffon, Alessandro Del Piero, David Trezeguet, dan Pavel Nedvěd, tetap bertahan untuk membantu Juventus kembali ke Serie A. Para pemain tim Primavera (junior) seperti Sebastian Giovinco dan Claudio Marchisio pun langsung dimainkan di tim utama. Juventus meraih gelar juara Serie B pada musim 2006-07, dan berhak untuk kembali berlaga di Serie A.,[55] Sang kapten, Del Piero, berhasil menjadi pencetak gol terbanyak dengan 21 gol.

Pada tahun 2010, Juventus mempertimbangkan untuk mengajukan banding terhadap pencopotan gelar juara mereka di musim 2004-05 dan 2005-06, setelah melihat hasil persidangan yang berkaitan dengan skandal tersebut.[56] Tuduhan terhadap mantan General Manager Juventus Luciano Moggi, yang dianggap melakukan tindakan kriminal, ditolak sebagian oleh Mahkamah Agung Italia pada tanggal 23 Maret 2015.[57] Juventus pun menggugat FIGC untuk membayar ganti rugi sebesar €443 juta atas kerugian yang mereka terima akibat degradasi ke Serie B pada tahun 2006. Presiden FIGC Carlo Tavecchio menawarkan diskusi untuk mengembalikan gelar juara Juventus, asalkan Juventus mau menarik gugatan tersebut.[58] Pada tanggal 9 September 2015, Mahkamah Agung Italia mengeluarkan dokumen setebal 150 halaman yang menjelaskan keputusan akhir terkait kasus itu. Meski sebagian tuduhan terhadap Moggi dibatalkan (tanpa persidangan baru), pengadilan tetap menyatakan bahwa Moggi secara aktif terkait dengan kasus kecurangan yang menguntungkan Juventus dan dirinya sendiri.[59] Pada tahun 2016, pengadilan TAR menolak permintaan kompensasi dari Juventus.[60]

Kembali ke Serie A

Saat kembali ke Serie A pada musim 2007-08, Juventus menunjuk mantan manajer Chelsea Claudio Ranieri sebagai pelatih.[61] Mereka berhasil meraih posisi ketiga di akhir musim, dan berhak untuk berlaga di Liga Champions musim 2008–09 lewat babak kualifikasi ketiga. Juventus berhasil mencapai fase grup, dan mengalahkan Real Madrid baik di pertandingan kandang maupun tandang. Sayangnya, mereka harus takluk dari Chelsea pada babak gugur. Karena serangkaian hasil buruk, Ranieri akhirnya dipecat dan digantikan oleh Ciro Ferrara sebagai pelatih sementara di dua pertandingan terakhir Serie A musim 2008-09.[62] Ferrara kemudian terpilih sebagai pelatih tetap untuk musim berikutnya.[63]

Tim Juventus sebelum pertandingan Liga Champions UEFA 2012–13 melawan Shakhtar Donetsk.

Kiprah Ferrara tidak diwarnai dengan kesuksesan. Juventus harus tersingkir dari Liga Champions dan Coppa Italia, serta hanya berhasil menempati posisi ke-6 di klasemen Serie A, pada akhir bulan Januari 2010. Hasil buruk tersebut membuat Ferrara akhirnya dipecat dan digantikan oleh Alberto Zaccheroni sebagai pelatih sementara. Zaccheroni gagal memperbaiki tim, dan Juventus pun mengakhiri musim di posisi ke-7.

Pada musim 2010-11, posisi Jean-Claude Blanc sebagai Presiden klub digantikan oleh Andrea Agnelli. Langkah pertama yang dilakukan Agnelli setelah menjadi Presiden adalah mengganti Zaccheroni dengan pelatih Sampdoria Luigi Del Neri, dan mengganti Direktur Olahraga mereka Alessio Secco dengan Giuseppe Marotta.[64] Sayangnya, Delneri juga gagal mengubah peruntungan Juventus dan dipecat. Mantan pemain Juventus yang baru saja membawa Siena promosi ke Serie A, Antonio Conte, ditunjuk untuk mengisi posisi Delneri. Pada bulan September 2011, Juventus memindahkan kandang mereka ke Juventus Stadium.

Bersama Conte sebagai pelatih, Juventus meraih hasil yang diharapkan. Mereka tak terkalahkan sepanjang musim 2011-12 di Serie A. Di paruh kedua musim, mereka praktis hanya bersaing dengan Milan untuk memperebutkan posisi pertama. Juventus memenangkan gelar tersebut di pekan ke-37 setelah mengalahkan Cagliari 2-0, dan Milan kalah dari Internazionale dengan skor 4-2. Setelah kemenangan 3-1 atas Atalanta di pekan terakhir, Juventus pun resmi menjadi tim pertama yang mengakhiri Serie A tanpa terkalahkan (dalam kompetisi yang menggunakan format 38 pertandingan). Beberapa prestasi lain yang juga mereka raih saat itu adalah kemenangan tandang terbesar saat mengalahkan Fiorentina dengan skor 5-0, rekor pertahanan terbaik di Serie A (hanya kebobolan 20 kali, paling sedikit dalam format liga yang digunakan saat ini), yang juga merupakan rekor pertahanan terbaik kedua di antara liga-liga besar Eropa.[65]

Pada musim 2013–14, Juventus meraih scudetto ketiga secara berturut-turut bersama Antonio Conte. Di musim tersebut, mereka bahkan berhasil mengumpulkan rekor poin terbanyak (102) dengan 33 kemenangan. Itu adalah gelar ke-30 sepanjang sejarah Juventus. Mereka pun berhasil mencapai babak semi final di Europa League, tetapi harus tereliminasi oleh Benfica yang pada pertandingan kedua bermain dengan 10 orang dan menerapkan pertahanan catenaccio. Mereka pun gagal melaju ke babak final yang berlangsung di kandang mereka sendiri, Juventus Stadium.

Di akhir musim, Antonio Conte memutuskan untuk mundur dan digantikan oleh Massimiliano Allegri.

Era Allegri

Di bawah kepemimpin mantan pelatih Milan tersebut, Juventus berhasil meraih gelar juara Serie A sebanyak lima kali berturut-turut. Bila ditambah dengan gelar juara yang diraih bersama Conte, maka mereka telah menjadi scudetto selama delapan kali berturut-turut. Bersama Allegri, Juventus berhasil masuk ke babak final Liga Champions sebanyak dua kali, meski selalu gagal di dua kesempatan tersebut.

Pada musim pertama Allegri, 2014–15, Juventus berhasil meraih gelar Serie ke-31 dan gelar juara Coppa Italia ke-10.[66] Mereka pun mengalahkan Real Madrid di babak semi final Liga Champions dengan agregat 3-2, dan berhak untuk menghadapi Barcelona dalam babak final yang berlangsung di Berlin. Ini adalah pertama kalinya Juventus berhasil masuk ke babak final Liga Champions sejak musim 2002-03.[67] Sayangnya, Juventus harus takluk 1-3 lewat gol cepat Ivan Rakitić, yang diikuti oleh gol balasan Alvaro Morata di menit ke-55. Barcelona kembali unggul berkat gol Luis Suárez di menit ke-70, diikuti dengan gol Neymar di menit akhir lewat skema serangan balik.[68]

Pada tanggal 25 April 2016, Juventus mendapatkan gelar ke-32 mereka dan yang kelima secara berturut-turut. Terakhir kali mereka menjuarai Serie A sebanyak lima kali berturut-turut adalah di musim 1930-31 hingga 1934-35. Mereka berhasil memastikan titel juara setelah Napoli takluk dari Roma, membuat Juventus tak lagi bisa terkejar secara matematis, meski liga masih menyisakan tiga pertandingan lagi. Pada tanggal 21 Mei, Juventus kembali meraih Coppa Italia yang ke-11 dan dua kali secara berturut-turut. Hal ini membuat Juventus menjadi tim pertama di Italia yang berhasil mengawinkan gelar Serie A dan Coppa Italia selama dua musim berturut-turut.[69][70][71]

Pada tanggal 17 Mei 2017, Juventus menjuarai Coppa Italia ke-12 setelah menang 2-0 atas Lazio di babak final. Mereka pun menjadi tim pertama di Italia yang berhasil menjuarai Coppa Italia selama tiga kali berturut-turut.[72] Empat hari kemudian, Juventus memastikan diri sebagai tim pertama di Italia yang berhasil menjuarai liga selama enam kali berturut-turut.[73] Pada tanggal 3 Juni 2017, Juventus kembali lolos ke babak final Liga Champions kedua mereka selama tiga tahun terakhir. Sayangnya, mereka kembali gagal setelah kalah 1-4 dari juara bertahan Real Madrid. 10 menit sebelum peluit akhir dibunyikan, terjadi insiden kerusuhan di Turin yang menyebabkan dua orang meninggal dan ribuan orang lainnya cedera. Hal ini disebabkan aksi perampokan dengan semprotan merica yang disalahartikan sebagai serangan bom, sehingga kepanikan pun terjadi.[74][75]

Pada musim 2017–18, Juventus kembali meraih gelar Coppa Italia yang keempat secara berturut-turut setelah mengalahkan Milan dengan skor 4-0 di babak final.[76] Mereka pun berhasil meraih gelar juara ketujuh secara berturut-turut,[77] dan memperkuat dominasi mereka di liga domestik.

Pada awal musim 2018–19, Juventus memecahkan rekor transfer termahal untuk pemain di atas 30 tahun, dan rekor transfer termahal oleh klub asal Italia, ketika mereka merekrut pemain berusia 33 tahun Cristiano Ronaldo. Mereka menggaet Ronaldo dari Real Madrid dengan biaya €112 juta.[78] Ronaldo pun menjadi pemain kunci yang membawa Juventus kembali meraih gelar juara di Serie A, kedelapan secara berturut-turut.[79] Di akhir musim, Juventus memberhentikan Allegri, dan merekrut mantan pelatih Napoli Maurizio Sarri yang baru saja berhasil membawa Chelsea menjuarai Europa League.

Referensi

WikiPedia: Juventus_F.C. http://www.acmilan.com/it/news/show/142248 http://www.beinsports.com/au/football/news/juventu... http://www.blackwhitereadallover.com/2015/7/1/8875... http://bnonews.com/news/index.php/news/id5974 http://www.duniasoccer.com/Duniasoccer/Komunitas/F... http://www.espnfc.com/italian-serie-a/story/181172... http://www.eurosport.com/football/juventus-claim-b... http://es.fifa.com/classicfootball/clubs/club=3108... http://www.fifa.com/classicfootball/clubs/club=310... http://www.fifa.com/classicfootball/clubs/matchrep...