Perlawanan terhadap positivisme dan rasionalisme Eksistensialisme

Lihat pula: Positivisme dan Rasionalisme

Kaum eksistensialis menolak definisi manusia sebagai makhluk yang rasional. Dengan demikian, mereka menolak positivisme dan rasionalisme. Eksistensialisme menyatakan bahwa manusia sebenarnya membuat keputusan berdasarkan arti subyektif dan bukan rasionalitas murni. Penolakan akal budi sebagai sumber makna adalah suatu konsep yang terus diulang dalam pemikiran eksistensialis, seperti fokus pada perasaan gelisah dan ketakutan yang kita rasakan di hadapan kebebasan radikal kita sendiri dan kesadaran kita akan kematian. Kierkegaard mengedepankan rasionalitas sebagai cara kita berinteraksi dengan dunia objektif (yakni sains dan ilmu alam), akan tetapi ketika berhadapan dengan masalah eksistensial, tidak cukup hanya akal budi saja yang harus digunakan: "Akal budi manusia ada batasnya."[43]

Sebagaimana Kierkegaard, Sartre juga bermasalah dengan rasionalitas, menyebutnya sebagai sebentuk mauvaise foi, sebuah usaha diri untuk menciptakan struktur dalam dunia yang penuh fenomena — Liyan — yang irasional dan acak. Menurut Sartre, rasionalitas dan bentuk-bentuk mauvaise foi lainnya menyulitkan manusia mencari makna di dalam kebebasan. Menurut Sartre, orang-orang mengungkung diri mereka sendiri di balik kenyataan sehari-hari untuk mencoba menghilangkan rasa gelisah dan takut. Hal ini menyebabkan mereka melepaskan kebebasan diri mereka dan masuk ke dalam sebentuk penjara Pandangan Sang Liyan.

Referensi

WikiPedia: Eksistensialisme http://publish.uwo.ca/~dmann/waking_essay.htm http://www.existential-therapy.com/Arts/Movies.htm http://www.friesian.com/existent.htm http://www.horrorreview.com/essay/eglovecraft12008... http://www.latimes.com/entertainment/news/movies/l... http://www.nybooks.com/articles/archives/2014/jun/... http://www.realcleardefense.com/articles/2016/02/1... http://www.tameri.com/csw/exist/ http://www.tfd.com/despair http://www.columbia.edu/cu/augustine/arch/nihilism...