Kritik Eksistensialisme

Kritik umum

Walter Kaufmann mengkritik "metode yang amat tidak jelas, dan kebencian berbahaya akan penggunaan akal budi, yang begitu tampak dalam eksistensialisme."[98]

Para filsuf positivis logis, seperti Rudolf Carnap dan A. J. Ayer, menyatakan bahwa kaum eksistensialis sering bingung mengenai verba to be dalam analisis mereka mengenai being.[99] Khususnya, mereka berkata bahwa verba is bersifat transitif dan sudah terpatri terlebih dahulu pada predikat (misalnya, an apple "is red") — tanpa predikat, kata itu tidak ada artinya, dan para eksistensialis sering menyalahgunakan istilah itu. Colin Wilson mengatakan, dalam bukunya The Angry Years, bahwa eksistensialisme banyak menciptakan kebingungannya sendiri: "kita bisa lihat, pertanyaan mengenai kebebasan kehendak ini dihidupkan kembali oleh filsafat pascaromantis, yang karena kesukaannya menginvestigasi kemalasan dan kebosanan, kita bisa melihat bagaimana eksistensialisme menggali kuburannya sendiri, dan bagaimana perkembangan filsafat sejak saat itu hanya berputar-putar di sekitar lubang yang sama."[100]

Filsafat Sartre

Banyak kritikus yang menilai bahwa filsafat Sartre bersifat kontradiktif. Khususnya, mereka menilai bahwa Sartre membuat argumen metafisik, meskipun ia sendiri mengklaim bahwa pandangan filsafatnya mengabaikan metafisika. Herbert Marcuse mengkritik Being and Nothingness, karya Sartre tahun 1943, karena di dalam karya itu Sartre memproyeksikan kegelisahan dan ketiadaan makna ke dalam sifat eksistensi itu sendiri: "Apabila Eksistensialisme adalah doktrin filsafat, doktrin ini tetap sebuah doktrin idealistik yang meng-hipostatisasi kondisi sejarah khusus kemanusiaan menjadi karakteristik ontologis dan metafisik. Eksistensialisme menjadi bagian ideologi yang diserangnya itu sendiri, dan radikalismenya itu hanyalah ilusi."[101]

Dalam "Surat Mengenai Kemanusiaan", Martin Heidegger mengkritik eksistensialisme Sartre:

Eksistensialisme menyebut bahwa eksistensi mendahului esensi. Dalam pernyataan ini, ia mengambil "existentia" dan "essentia" menurut makna metafisiknya itu sendiri, yang sejak zaman Plato, sudah mengatakan bahwa "essentia" mendahului "existentia". Sartre menukar posisi ini. Akan tetapi, penukaran pernyataan metafisis ini tetaplah merupakan sebuah pernyataan metafisis. Dengannya, Sartre tetap berada di dalam metafisis, dan tidak menyadari keberadaan Being.[102]

Referensi

WikiPedia: Eksistensialisme http://publish.uwo.ca/~dmann/waking_essay.htm http://www.existential-therapy.com/Arts/Movies.htm http://www.friesian.com/existent.htm http://www.horrorreview.com/essay/eglovecraft12008... http://www.latimes.com/entertainment/news/movies/l... http://www.nybooks.com/articles/archives/2014/jun/... http://www.realcleardefense.com/articles/2016/02/1... http://www.tameri.com/csw/exist/ http://www.tfd.com/despair http://www.columbia.edu/cu/augustine/arch/nihilism...