Konsep Eksistensialisme

Eksistensi mendahului esensi

Sartre mengklaim bahwa salah satu konsep sentral eksistensialisme adalah bahwa eksistensi mendahului esensi, yang berarti bahwa pertimbangan terpenting bagi seorang individual adalah bahwa mereka adalah individual — entitas yang bersikap dan bertanggung jawab secara independen dan sadar ("eksistensi") — dan bukan label, peran, stereotipe, definisi, atau kategori lainnya yang digunakan atau dipergunakan kepada individual tersebut ("esensi"). Kehidupan aktual seorang individu kemudian dapat disatukan dan dijadikan "esensi nyata" mereka, dan bukan esensi yang diatribusikan orang lain kepada mereka. Dengan demikian, manusia, melalui kesadarannya sendiri, menciptakan nilai-nilainya sendiri, dan menentukan arti bagi kehidupannya sendiri.[24] Meskipun yang jelas-jelas pertama kali menggunakan frasa ini adalah Sartre, namun pemikiran yang sama dapat pula ditemukan pada filsuf eksistensialis lain seperti Heidegger dan Kierkegaard:

Bentuk pemikir yang subyektif, bentuk komunikasinya, adalah gaya-nya. Bentuknya harus banyak sekali, sebanyak perlawanan-perlawanan yang dipegangnya. Eins, zwei, drei yang sistematis adalah bentuk abstrak yang pasti akan sulit diaplikasikan menjadi sesuatu yang konkret. Seorang pemikir subyektif harus se-konkret bentuknya yang dialektis. Akan tetapi, karena ia sendiri bukan seorang penyair, bukan seorang pemikir etika, bukan seorang dialektis, bentuknya juga bukan itu semua secara langsung. Bentuknya pertama-tama dan terakhir harus berhubungan dengan eksistensinya, dan dengan demikian ia harus memiliki sifat puitis, etis, dialektis, dan religius. Karakter, latar belakang, dan hal-hal lain yang subordinat itu, yang masuk ke dalam karakter utama produksi estetis yang seimbang, hanyalah semacam bidang; seorang pemikir subyektif hanya memiliki satu latar belakang yaitu eksistensi dan eksistensi tidak ada hubungannya dengan lokalitas dan hal-hal semacam itu. Latar belakang bukanlah surga imajinasi, tempat puisi mendapatkan bentuknya; juga bukan Inggris, tempat ketepatan sejarah tidak dipermasalahkan orang. Latar belakang adalah diri dalam yang eksis sebagai manusia; konkresi adalah hubungan antara satu kategori eksistensi dengan yang lainnya. Ketepatan dan aktualitas sejarah berada dalam satu bidang. Søren Kierkegaard (Concluding Postscript, Hong pp. 357–58)

Ada orang-orang yang menganggap bahwa perintah untuk mendefinisikan diri sendiri berarti seseorang dapat menjadi apa pun. Akan tetapi, seorang filsuf eksistensialis akan mengatakan bahwa keinginan seperti itu menghasilkan eksistensi yang tidak otentik, yang disebut Sartre sebagai mauvaise foi (bahasa Indonesia: kepercayaan buruk). Frasa tersebut berarti bahwa manusia (1) didefinisikan oleh tindakan mereka dan (2) bertanggung jawab atas tindakan mereka. Misalnya, seseorang yang bertindak buruk terhadap orang lain didefinisikan sebagai orang buruk, sebagaimana ditunjukkan aksi yang dilakukannya itu. Lebih lagi, orang itu kemudian juga bertanggung jawab atas identitas baru (orang buruk) yang dihasilkan dari aktivitas tersebut. Hal ini berlawanan dengan sikap mempersalahkan genetika atau sifat alami manusia.

Sebagaimana dikatakan Sartre dalam kuliahnya, Eksistensialisme Adalah Sebentuk Humanisme: "... manusia pada awalnya eksis, menyadari keberadaannya sendiri, bangun di dunia, lalu setelah itu mendefinisikan dirinya sendiri." Aspek yang lebih positif dan terapeutis dari hal ini juga diimplikasikan sebagai berikut: seseorang dapat memilih untuk bertindak dengan cara lain, dapat memilih untuk menjadi orang baik daripada menjadi orang jahat.[25]

Definisi eksistensialisme Sartre berdasar pada magnum opus Heidegger berjudul Being and Time (bahasa Indonesia: KeAdaan dan Waktu). Dalam sejumlah surat, Heidegger mengimplikasikan bahwa Sartre salah memahami filsafatnya demi memajukan subjektivitasnya sendiri, dan bahwa Heidegger tidak bermaksud bahwa aksi-aksi lebih didahului daripada keAdaan asalkan aksi tersebut tidak pertama-tama dipikirkan terlebih dahulu. Cara hidup seperti ini disebut Heidegger sebagai "keseharian biasa saja" (bahasa Inggris: average everydayness).

Absurdisme

Artikel utama: Absurdisme

Konsep absurdisme mengandung ide bahwa tidak ada makna di dunia ini selain yang kita buat sendiri. Termasuk di dalam ketiadaan makna ini adalah amoralitas atau "ketidakadilan" dunia. Konseptualisasi ini dapat dipandang dalam kaitannya dengan perspektif Yahudi-Kristen-Islami, yang mengatakan bahwa tujuan hidup adalah untuk mematuhi perintah Tuhan.[26] Hidup absurd berarti menolak hidup yang menemukan atau mengejar makna tertentu bagi kehadiran manusia karena tidak ada pula yang dapat ditemukan. Menurut Albert Camus, alam semesta atau manusia tidak absurd dengan sendirinya, namun menjadi absurd ketika keduanya saling diposisikan satu sama lain, ketika kehidupan menjadi absurd karena manusia dan dunia yang dihidupinya tidak saling kompatibel.[26] Pandangan ini adalah salah satu dari dua interpretasi absurd yang ada dalam pandangan eksistensialis. Pandangan kedua, yang pertama kali dijelaskan oleh Kierkegaard, mengatakan bahwa absurditas terbatas pada aksi dan pilihan manusia. Aksi dan pilihan tersebut dipandang absurd karena muncul dari kebebasan manusia dan bukan berasal dari fondasi diri yang berada di luar diri mereka sendiri.[27]

Konsep absurd dalam eksistensialisme berlawanan dengan klaim bahwa "hal-hal buruk tidak akan terjadi pada orang baik"; kepada alam semesta, secara metaforis, tidak ada orang baik atau orang buruk; apa yang terjadi, terjadilah, dan sesuatu yang buruk dapat terjadi bagi orang "buruk" maupun orang "baik".[28] Absurditas alam semesta menyebabkan apa pun dapat terjadi kepada siapa pun, kapan pun, dan suatu kejadian tragis dapat mengantarkan manusia kepada konfrontasi langsung pada Absurditas. Konsep Absurd dapat banyak dijumpai dalam sejarah sastra. Banyak karya sastra Søren Kierkegaard, Samuel Beckett, Franz Kafka, Fyodor Dostoyevsky, Eugène Ionesco, Miguel de Unamuno, Luigi Pirandello,[29][30][31][32] Jean-Paul Sartre, Joseph Heller dan Albert Camus yang mengandung penggambaran mengenai absurditas dunia.

Dalam hubungannya dengan ketiadaan makna alam semesta inilah Albert Camus mengedepankan pikirannya bahwa "hanya ada satu masalah filsafat yang serius, yaitu bunuh diri", dalam Mitos Sisifos. "Pengobatan" terhadap konsekuensi buruk dari pemikiran ini ada banyak, dari "adegan" Kierkegaard yang ada hubungannya dengan agama, hingga anggapan Camus bahwa kita harus terus berjuang di muka absurditas. Namun, para filsuf eksistensialis memang amat ingin membantu manusia menghindari kehidupan yang di dalamnya selalu ada bahaya kehilangan semua hal yang bermakna. Bahaya ini dapat mengantarkan seseorang kepada quietisme, yang secara inheren berlawanan dengan filsafat eksistensialis.[33] Dikatakan bahwa kemungkinan bunuh diri membuat semua manusia menjadi eksistensialis. Pahlawan absurditas yang sesungguhnya hidup tanpa makna dan menghadapi bunuh diri tanpa bunuh diri.[34]

Faktisitas

Artikel utama: Faktisitas

Faktisitas adalah sebuah konsep yang didefinisikan oleh Sartre dalam Being and Nothingness sebagai keberadaan-dalam-dirinya-sendiri (bahasa Inggris: being-in-itself), yang membedakan modalitas manusia antara berada dan tidak berada. Ini dapat dipahami dengan mudah apabila faktisitas dipandang dalam hubungannya dengan dimensi temporal masa lalu kita: masa lalu seseorang adalah keberadaan seseorang karena masa lalu tersebut turut menjadikan seseorang. Namun, kita tidak dapat mengatakan bahwa seseorang hanyalah masa lalunya saja karena dengan demikian berarti kita mengabaikan sebagian besar kenyataan (yakni, masa kini dan masa depan); di sisi lain, kalau kita mengatakan bahwa masa lalu seseorang sudah tidak lagi berlaku kini, itu sama saja tidak merujuk pada diri orang tersebut di masa kini. Penyangkalan masa lalu seseorang menghasilkan gaya hidup yang tidak otentik. Hal yang sama berlaku pada jenis-jenis faktisitas yang lain (misalnya, seorang manusia memiliki tubuh manusia yang tidak dapat berlari lebih cepat daripada kecepatan suara — identitas, nilai, dll.)[35]

Faktisitas adalah pembatasan dan nilai penentu kebebasan. Pembatasan karena sebagian besar faktisitas manusia adalah hal-hal yang tidak dapat diubah (tempat lahir, dll.), tetapi juga nilai penentu kebebasan karena pandangan-pandangan seseorang kemungkinan besar akan bergantung pada faktisitas tersebut. Namun, meskipun faktisitas seseorang sudah "terukir di batu" (misalnya sudah berada di masa lalu), faktisitas tetap tidak dapat mendefinisikan seseorang; seseorang tetap dapat menilai faktisitasnya, dan nilai-nilai yang dibawakan faktisitas itu, dengan bebas. Sebagai contoh: bayangkanlah dua manusia, manusia pertama tidak memiliki ingatan akan masa lalunya, dan manusia kedua mengingat masa lalunya. Mereka pernah melakukan banyak kejahatan, tetapi manusia pertama yang tidak tahu apa-apa karena lupa, hidup dengan normal; manusia kedua, yang merasa terjebak dengan masa lalunya, melanjutkan hidup penuh kriminalitas dan menyalahkan masa lalunya yang telah "menjebaknya" dalam kehidupan seperti itu. Tidak ada hal yang esensial tentang perilaku kriminalnya, tetapi ia memberikan makna pada masa lalu tersebut.

Namun, jika seseorang tidak memedulikan faktisitas saat memproyeksikan diri sendiri di masa depan, itu sama saja menolak diri sendiri dan sama saja tidak otentik. Awal mula proyeksi seseorang masih perlu tetap berdasar pada faktisitas, meskipun tentunya tidak dalam mode menjadi faktisitas tersebut secara esensial. Sebagai contoh, pertimbangkanlah seseorang yang berfokus pada proyek-proyek yang mungkin terjadi di masa depan tanpa memerhatikan faktisitas yang sedang berjalan:[35] seseorang yang terus-menerus berpikir tentang masa depan yang berhubungan dengan kekayaan (mis. mobil yang lebih baik, rumah yang lebih besar, kualitas hidup yang lebih baik, dll.), tanpa mengingat faktisitas "saat ini tidak mampu melakukan hal itu." Dalam contoh ini, apabila mempertimbangkan faktisitas dan transendensi, mode keberadaan yang otentik adalah mencari proyek masa depan yang mungkin meningkatkan kemampuan finansial diri sendiri pada saat ini (mis. bekerja lebih keras atau menabung) agar dapat mencapai faktisitas masa depan seperti peningkatan gaji, yang kemudian dapat berakhir pada pembelian mobil baru.

Aspek faktisitas lain adalah bahwa faktisitas mengantarkan pada kegelisahan, baik ketika kebebasan "menciptakan" kegelisahan ketika dibatasi faktisitas, dan juga ketika tidak ada kemungkinan "menyalahkan" faktisitas untuk sesuatu yang seharusnya dipertanggungjawabkan seseorang.

Aspek kebebasan eksistensial lain adalah bahwa seseorang dapat mengubah nilai-nilai yang dipegangnya. Dengan demikian, seseorang bertanggung jawab pada nilai-nilai yang dipegangnya, terlepas dari nilai-nilai yang dipegang masyarakat. Fokus kebebasan dalam eksistensialisme terkait dengan batasan tanggung jawab yang dipegang seseorang sebagai hasil dari kebebasannya: antara kebebasan dan tanggung jawab terdapat hubungan yang saling bergantung satu sama lain. Klarifikasi mengenai kebebasan juga mengklarifikasi tanggung jawab seseorang.[36][37]

Otentisitas

Artikel utama: Otentisitas

Banyak penulis eksistensialis yang mementingkan tema eksistensi otentik. Konsep utamanya adalah seseorang harus "menciptakan diri sendiri" dan hidup sesuai dengan diri ini. Dalam bertindak, seseorang harus bertindak sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai "aksi seseorang" atau "gen seseorang" atau esensi lainnya. Aksi otentik adalah aksi yang turut dengan kebebasan seseorang. Nilai penentu kebebasan adalah faktisitas, termasuk faktisitas diri sendiri, namun faktisitas tetap tidak dapat menentukan pilihan transenden seseorang. Peran faktisitas dalam hubungannya dengan otentisitas adalah membiarkan nilai-nilai seseorang "bermain" saat membuat pilihan (dan tidak "memilih" secara acak). Dengan demikian, seseorang bertanggung jawab atas kelakuannya sendiri dan tidak membuat pilihan ini atau itu tanpa menyadari bahwa pilihan-pilihan tersebut dapat memiliki konsekuensinya masing-masing.[38]

Berlawanan dengan ini adalah hidup yang tidak otentik (inotentik). Orang yang hidup secara tidak otentik berarti menyangkal hidup yang sesuai dengan kebebasannya sendiri. Ada banyak bentuknya, misalnya dengan mengatakan bahwa pilihan yang ada memang tiada maknanya atau acak, dengan meyakinkan diri sendiri bahwa ada bentuk determinisme yang benar, hingga semacam "mimikri", ketika seseorang bertindak seolah-olah "ia harus".

"Keharusan" seseorang dalam bertindak ditentukan oleh bayangan yang dimiliki orang itu terkait dengan aksi yang ia anggap harus dilakukannya (misalnya berperan sebagai manajer bank, pemain sirkus, pekerja seks, dll.) Dalam Keberadaan dan Ketiadaan (bahasa Inggris: Being and Nothingness), Sartre menggambarkan contoh seorang "penunggu kafe" yang sedang berada dalam mauvaise foi: ia hanya menjalankan peran sebagai seorang penunggu kafe, meskipun permainan peran tersebut amat meyakinkan.[39] Biasanya, bayangan ini berhubungan dengan norma sosial tertentu, akan tetapi ini tidak berarti bahwa semua perilaku yang bersesuaian dengan norma sosial itu tidak otentik. Kepentingan utamanya adalah sikap seseorang terhadap kebebasan dan tanggung jawab seseorang, serta sejauh apa seseorang berlaku dengan sadar akan kebebasannya sendiri.

Sang Liyan dan Pandangan

Artikel utama: Liyan (filsafat)

Liyan (bahasa Indonesia: lain) adalah konsep yang biasanya dimasukkan ke dalam fenomenologi dan konsep intersubjektivitas yang dimilikinya. Akan tetapi, konsep ini juga banyak digunakan dalam tulisan-tulisan eksistensialis, dan kesimpulan-kesimpulan yang ada di dalam penggunaannya oleh kaum eksistensialis sedikit berbeda dengan kesimpulan fenomenologi. Pengalaman Liyan adalah pengalaman subjek bebas lainnya yang berada dalam dunia yang sama dengan seseorang. Dalam bentuknya yang paling mendasar, pengalaman ke-Liyan-an ini adalah yang mendirikan intersubjektivitas dan objektivitas. Ketika seseorang mengalami orang lain, dan orang Liyan ini mengalami dunia (dunia yang sama dengan yang dialami orang pertama, hanya saja dari sudut pandang yang berbeda); dunia itu sendiri menjadi objektif, atau dengan kata lain, terdapat sesuatu yang "ada" yang sama bagi kedua belah pihak. Seseorang mengalami orang lain yang mengalami hal yang sama. Pengalaman pandangan Liyan inilah yang disebut Pandangan (bahasa Inggris: the Gaze, the Look).[40]

Meskipun pengalaman ini dalam makna fenomenologis dasarnya mendirikan dunia sebagai suatu hal yang objektif, serta diri sendiri sebagai sebuah subjektivitas yang eksis secara objektif (seseorang mengalami dirinya sendiri sebagaimana dilihat dalam Pandangan Sang Liyan dengan cara yang sama yang dialami Sang Liyan sebagai sebuah subjektivitas), dalam eksistensialisme, Pandangan juga bertindak sebagai sebentuk pembatasan kebebasan. Ini karena Pandangan cenderung mengobjektifikasi apa yang dilihatnya. Misalnya, ketika seseorang mengalami dirinya sendiri dalam Pandangan, seseorang tidak mengalami dirinya sebagai ketiadaan, melainkan sebagai sesuatu. Contoh yang diberikan Sartre adalah seseorang yang mengintip melalui lubang kunci; pada awalnya, lelaki yang mengintip ruangan itu sepenuhnya fokus pada situasi yang ada dalam ruangan itu dan ia berada dalam kondisi pre-refleksif dan mengarahkan kesadarannya pada apa yang terjadi di dalam ruangan. Tiba-tiba, ia mendengar suara yang mengindikasikan bahwa ada orang di belakangnya, dan kemudian ia menyadari bahwa ia sedang diPandang oleh sang Liyan. Ia kemudian merasa malu karena ia akan menilai dirinya sendiri sebagaimana ia akan menilai seseorang yang mengintip melalui lubang kunci. Pandangan ini kemudian turut mendirikan faktisitas seseorang.

Karakteristik lain Pandangan adalah tidak ada Liyan yang benar-benar harus berada di sana. Bisa saja suara yang muncul di belakangnya itu disebabkan angin yang berderai menyebabkan rumahnya sedikit bergoyang. Pandangan bukanlah semacam pengalaman telepatis yang mistis mengenai cara Liyan memandang. Pandangan hanyalah persepsi seseorang tentang cara orang lain akan mempersepsi dirinya.

Kegelisahan dan ketakutan

Artikel utama: Kegelisahan

"Kegelisahan eksistensial", kadang juga disebut ketakutan eksistensial, adalah sebuah istilah yang umum digunakan para pemikir eksistensialis. Kegelisahan ini biasanya didefinisikan sebagai suatu perasaan negatif yang muncul dari pengalaman kebebasan dan tanggung jawab manusia. Contoh arketipal kegelisahan adalah pengalaman yang biasanya dimiliki seseorang ketika berdiri di atas sebuah tebing; orang itu tidak hanya takut ia akan jatuh, tetapi juga takut akan menjatuhkan diri sendiri. Dalam pengalaman ini, ketika seseorang merasa "tidak ada yang membatasi saya", seseorang merasa bahwa tidak ada apa pun yang menentukan dirinya untuk terjun atau diam berdiri, dan di saat itulah ia merasakan bahwa dirinya bebas.

Keputusasaan

Artikel utama: Keputusasaan

Dalam eksistensialisme, keputusasaan secara umum didefinisikan sebagai putusnya asa.[41] Secara spesifik, keputusasaan adalah putusnya asa sebagai reaksi hilangnya sebuah atau banyak sifat yang mendefinisikan kedirian atau identitas seseorang. Apabila seseorang ingin menjadi sesuatu, misalnya menjadi supir bus atau warga negara yang baik, dan orang itu menyadari bahwa identitasnya rusak karena suatu hal, ia biasanya akan mengalami situasi putus asa. Misalnya, seorang penyanyi yang tidak lagi mampu menyanyi akan merasa putus asa apabila tidak ada hal lain yang bisa dilakukannya. Tidak ada lagi suatu hal yang menjadi identitasnya. Ia tidak mampu menjadi apa yang mendefinisikan dirinya.

Yang membedakan konsepsi keputusasaan eksistensialis dengan definisi yang dipegang umum adalah keputusasaan eksistensialis adalah kondisi yang dialami seseorang bahkan ketika mereka tidak sedang dalam keputusasaan yang mendalam. Apabila identitas seseorang bergantung pada sifat-sifat yang dapat runtuh, mereka berada dalam keputusasaan yang terus-menerus. Lebih lanjut, karena menurut Sartre tidak ada esensi manusia yang dapat ditemukan dalam realitas konvensional yang dapat menciptakan identitas seseorang, keputusasaan adalah kondisi universal bagi manusia. Sebagaimana didefinisikan Kierkegaard di dalam Either/Or: "Biarkan setiap orang belajar apa yang mampu dipelajarinya; kita semua dapat mempelajari bahwa kesedihan seseorang tidak pernah berada dalam ketiadaan kendali akan kondisi eksternalnya; hal ini hanya akan membuatnya benar-benar tidak bahagia."[42] Dalam Works of Love, ia mengatakan:

Ketika sifat duniawi kehidupan dunia yang tidak penting ini berhenti saat dihadapkan dengan kebanggaan terhadap diri sendiri, udara tiba-tiba menjadi beracun, waktu tiba-tiba berhenti, setiap tujuan menjadi hilang, terdapat semacam kebutuhan untuk angin yang menyegarkan dan menghidupkan, membersihkan udara, dan menghilangkan uap-uap beracun, yang menyelamatkan kita dari keduniawian. ... Mengharapkan semua hal dengan penuh cinta adalah lawan dari mengharapkan ketiadaan dengan penuh rasa putus asa. Cinta mengharapkan semua hal, namun tidak pernah dipermalukan. Harapan adalah merelasikan diri sendiri dengan kemungkinan kebaikan. Ketakutan adalah merelasikan diri sendiri dengan kemungkinan kejahatan. Dengan keputusan untuk memilih harapan, seseorang menentukan jauh lebih banyak daripada yang tampak pada awalnya, karena harapan adalah sebuah pilihan untuk selamanya. hlm. 246–50

Referensi

WikiPedia: Eksistensialisme http://publish.uwo.ca/~dmann/waking_essay.htm http://www.existential-therapy.com/Arts/Movies.htm http://www.friesian.com/existent.htm http://www.horrorreview.com/essay/eglovecraft12008... http://www.latimes.com/entertainment/news/movies/l... http://www.nybooks.com/articles/archives/2014/jun/... http://www.realcleardefense.com/articles/2016/02/1... http://www.tameri.com/csw/exist/ http://www.tfd.com/despair http://www.columbia.edu/cu/augustine/arch/nihilism...